Diliput Metro TV, Dari Halaman Kosong Menjadi Taman Numerasi, Guru-Guru SDN 140 Masumpu Sulap Keterbatasan Menjadi Inspirasi Nasional
Media Infota, Soppeng,- Siapa sangka halaman kosong di samping ruang kelas sebuah sekolah dasar di Kabupaten Soppeng dapat berubah menjadi ruang belajar yang menarik perhatian jutaan warganet?
Itulah yang terjadi di SDN 140 Masumpu, Desa Watu, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Berawal dari keprihatinan terhadap menurunnya capaian literasi dan numerasi murid dalam Rapor Pendidikan tahun sebelumnya, para guru di sekolah tersebut sepakat untuk tidak tinggal diam.
Mereka memilih bergerak bersama, memanfaatkan halaman kosong yang sebelumnya belum termanfaatkan menjadi sebuah Taman Literasi dan Numerasi.
Kini, halaman tersebut tidak lagi sekadar ruang terbuka. Berbagai permainan edukatif, tulisan inspiratif, media pembelajaran, dan fasilitas pendukung literasi menghiasi lingkungan taman. Murid-murid dapat belajar berhitung, membaca, memecahkan masalah, dan bekerja sama sambil bermain di ruang terbuka yang nyaman.
Inovasi sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan bersama yang membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Berawal dari Keprihatinan terhadap Rapor Pendidikan
Gagasan pembangunan Taman Literasi dan Numerasi lahir dari refleksi guru-guru terhadap kondisi capaian pendidikan di sekolah.
Hasil Rapor Pendidikan tahun sebelumnya menunjukkan adanya penurunan pada aspek literasi dan numerasi. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi seluruh warga sekolah, khususnya para guru yang menyadari bahwa kemampuan membaca, memahami informasi, bernalar, dan berhitung merupakan fondasi penting bagi keberhasilan belajar murid.
Kepala SDN 140 Masumpu, Hj. Masdana, mengatakan bahwa sekolah perlu menghadirkan inovasi yang dapat mendukung peningkatan kemampuan literasi dan numerasi secara nyata.
"Kami melihat hasil Rapor Pendidikan sebagai bahan refleksi bersama. Kami tidak ingin hanya melihat masalahnya, tetapi harus mencari solusi. Karena itu, kami mendukung guru-guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang dapat membantu murid meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi mereka," ujar Hj. Masdana.
Menurutnya, pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Lingkungan sekolah juga dapat menjadi sumber belajar yang kaya dan menyenangkan bagi murid.
"Kami ingin murid-murid tidak hanya belajar matematika dan membaca di dalam kelas. Mereka juga harus bisa menemukan pembelajaran itu di lingkungan sekitar mereka. Taman ini menjadi salah satu upaya kami untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan," tambahnya.
Guru Bersatu, Patungan Membangun Taman
Pembangunan Taman Literasi dan Numerasi SDN 140 Masumpu menjadi kisah tersendiri tentang kekuatan gotong royong.
Dengan keterbatasan anggaran sekolah, para guru memilih untuk berswadaya. Mereka patungan mengumpulkan dana untuk membeli cat dan berbagai kebutuhan penataan taman.
Dukungan juga datang dari orang tua murid yang turut membantu proses pengerasan lahan dan pembangunan tembok pembatas taman.
Tidak ada pembangunan dengan anggaran besar. Tidak ada fasilitas mewah yang didatangkan dari luar. Yang ada adalah semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap masa depan murid.
Agus Supramono, Guru Kelas 6 sekaligus Penanggung Jawab Taman Literasi dan Numerasi SDN 140 Masumpu, menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari keinginan sederhana untuk menghadirkan pembelajaran matematika dan literasi yang lebih dekat dengan kehidupan murid.
"Kami sadar bahwa pembelajaran matematika tidak cukup hanya dilaksanakan dalam lingkup kelas. Kami ingin menghadirkan konsep matematika di luar kelas melalui taman ini, sehingga murid bisa belajar sambil bermain dan melihat bahwa matematika sebenarnya ada di sekitar mereka," ungkap Agus.
Ia menambahkan, pembangunan taman dilakukan secara bertahap dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
"Kami tidak memiliki anggaran yang besar untuk membangun taman seperti ini. Karena itu, kami mencoba memanfaatkan apa yang kami miliki. Guru-guru patungan membeli cat, orang tua membantu pengerasan dan tembok, sementara seluruh warga sekolah bergotong royong menata lingkungan. Dari situlah taman ini perlahan terwujud," jelasnya.
21 Permainan Edukatif untuk Belajar Sambil Bermain
Salah satu daya tarik utama Taman Literasi dan Numerasi SDN 140 Masumpu adalah keberadaan 21 permainan dan media edukatif yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran.
Permainan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual bagi murid dari berbagai jenjang kelas.
Konsep numerasi dihadirkan melalui permainan operasi hitung, nilai tempat, pecahan, bangun datar, perkalian, pengukuran, statistik, hingga permainan yang melatih kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah.
Sementara itu, unsur literasi dikembangkan melalui Pondok Baca, aktivitas membaca, bercerita, permainan edukatif, serta berbagai media tulisan yang menghiasi lingkungan sekolah.
Agus Supramono menuturkan bahwa tujuan utama taman ini bukan sekadar membuat sekolah terlihat indah, melainkan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
"Kami ingin mengubah pandangan murid bahwa matematika itu sulit dan menakutkan. Melalui permainan, mereka dapat belajar konsep-konsep numerasi dengan cara yang lebih menyenangkan. Begitu juga dengan literasi, kami ingin membangun kebiasaan membaca dan memahami informasi dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Menurutnya, taman tersebut juga dirancang agar murid dapat belajar secara kolaboratif.
"Di taman ini murid tidak hanya belajar menghitung. Mereka juga belajar bekerja sama, berdiskusi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah. Jadi yang kami bangun bukan hanya taman fisik, tetapi juga lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter dan kompetensi murid," lanjut Agus.
Viral di Media Sosial hingga Diliput Metro TV
Semangat gotong royong guru-guru SDN 140 Masumpu ternyata mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Dokumentasi pembangunan dan aktivitas pembelajaran di Taman Literasi dan Numerasi dibagikan melalui media sosial. Konten tersebut kemudian viral dan telah ditonton oleh jutaan warganet.
Banyak masyarakat memberikan apresiasi terhadap kreativitas guru-guru sekolah tersebut yang mampu mengubah lahan kosong menjadi ruang belajar edukatif dengan memanfaatkan sumber daya yang sederhana.
Kisah inovasi tersebut bahkan menarik perhatian media nasional. Metro TV turut meliput keberadaan Taman Numerasi SDN 140 Masumpu dan mengangkat kreativitas para guru dalam menciptakan pembelajaran matematika di luar kelas.
Bagi Hj. Masdana, perhatian dari masyarakat dan media menjadi motivasi tambahan bagi sekolah untuk terus berinovasi.
"Kami tentu merasa bangga dan bersyukur. Tetapi yang paling penting bagi kami bukan viralnya, melainkan bagaimana taman ini benar-benar bermanfaat bagi murid. Perhatian dari masyarakat menjadi penyemangat agar kami terus mengembangkan program ini," ujar Hj. Masdana.
## Raih Juara 3 Lomba Taman Literasi dan Numerasi Kabupaten Soppeng
Selain mendapat perhatian publik dan media nasional, Taman Literasi dan Numerasi SDN 140 Masumpu juga berhasil meraih penghargaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng.
Dalam lomba Taman Literasi dan Numerasi tingkat Kabupaten Soppeng, SDN 140 Masumpu berhasil meraih Juara 3.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap inovasi dan kreativitas sekolah dalam mendukung penguatan literasi dan numerasi.
Agus Supramono mengungkapkan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh warga sekolah.
"Penghargaan ini bukan milik satu orang atau satu guru. Ini adalah hasil kerja bersama. Ada kepala sekolah yang mendukung, guru-guru yang bersatu, orang tua yang membantu, dan murid-murid yang menjadi alasan utama mengapa taman ini dibangun," tuturnya.
## Lebih dari Sekadar Taman
Bagi SDN 140 Masumpu, Taman Literasi dan Numerasi bukan sekadar fasilitas tambahan di lingkungan sekolah. Taman ini menjadi simbol bahwa perubahan pendidikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Sebuah halaman kosong dapat berubah menjadi ruang belajar. Cat yang dibeli dari hasil patungan dapat mengubah suasana sekolah. Dan semangat persatuan para guru dapat melahirkan inovasi yang bahkan mendapat perhatian hingga tingkat nasional.
Hj. Masdana berharap semangat kolaborasi yang telah terbangun dapat terus dipertahankan dan dikembangkan.
"Kami berharap Taman Literasi dan Numerasi ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan. Semoga semangat gotong royong yang dimiliki guru-guru dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berbuat sesuatu bagi kemajuan pendidikan," harapnya.
Sementara Agus Supramono menegaskan bahwa keberhasilan taman tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi pendidikan tidak selalu membutuhkan biaya besar.
"Kadang-kadang kita terlalu fokus pada apa yang tidak kita miliki. Padahal, jika kita melihat potensi yang ada dan mau bergerak bersama, banyak hal yang bisa kita lakukan. Taman ini adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari halaman kosong dan semangat kebersamaan," pungkasnya.
Dari sebuah sekolah dasar di Kabupaten Soppeng, Taman Literasi dan Numerasi SDN 140 Masumpu kini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas, kepedulian, dan gotong royong mampu menghadirkan perubahan dalam dunia pendidikan.
Sebab, pendidikan yang bermakna tidak selalu lahir dari fasilitas yang mahal. Terkadang, ia tumbuh dari tangan-tangan guru yang bersatu dan keyakinan bahwa setiap murid berhak mendapatkan ruang belajar yang menyenangkan.



